Saatnya Raga yang Bicara

Posted in Rangkaian Kata on February 5, 2009 by help4mgod

Kamu boleh saja melihatnya…., asalkan nafsu mu dapat terjaga karenanya
Kamu boleh saja menikmatinya…., asalkan tidak tergoda karenanya
Dan kamu dapat memakainya….., dengan syarat yang mutlak ada perasaan yang mendalam disana.
Dan kamu dapat hidup dengannya….., dengan syarat yang mutlak ada pengakuan dari yang lainnya

Dan saat semua tiba, putaran hitungan waktu perlahan merenggut nyawa
Apakah semua yang kamu mau tetap sama?…..
Dan saat semua tiba, putaran hitungan waktu perlahan merenggut nyawa
Apakah semua yang kamu mau tetap ada?…..

Sesaat semuanya nyata….
Sesaat semuanya bermakna…

Tapi yg harus kau sadari adalah semuanya akan sirna dan binasa sesuai dengan keputusan Sang Kuasa

Ini adalah, untaian-untaian kalimat hina!
Bagi kaum pencinta raga, yang candui setiap titik-titik kepalsuan bungkusan raga.

Ritme Irama Candu Halusinasi Mimpi

Posted in Rangkaian Kata with tags , on February 5, 2009 by help4mgod

Prokteksi diri adalah etape awal langkah penetapan gerakan seorang bidadari
Bidadari memang hanya khalayan dari para pemimpi, Bidadari adalah tampilan visualisasi mimpi
Ia dapat terkemas di dalam kotak dari pengeluar rangkaian warna sehingga dapat biaskan keindahan kecantikan dari berbagai pandangan pasangan-pasangan mata.

Walaupun bidadari tak berkata, ia dapat menenangkan si penjagal yang tak mempunyai rasa…
Walaupun bidadari tak merasa, ia dapat member rasa bagi si penjagal yang tak kenal estetika irama..

Disaat bidadari mengeluarkan suara…
Itu adalah ritme irama dalam setiap kalimat ucapan nya, yang dapat membuat si penjagal bermimpi karenanya…

Disaat bidadari mengeluarkan suara…
Ia berbisik melalui kotak hitam,pengeluran suara yang tertempel langsung di telinga si penjagal..

Penjagal menjadi penambal
Penambal bersuha membual
Pembual menjadi penghayal

Semua karena…..
Sang Bidadari mengeluarkan Ritme Irama Candu halusinasi Mimpi..

Biar saja penjagal bermimpi, karena kehadiran ilusi Sang Bidadari.

Cintanya Sunarti ( BAB II )

Posted in Rangkaian Kata untuk Bercerita with tags on January 20, 2009 by help4mgod

Suara langkah kaki terdengar memenuhi kesunyian pada suatu gang kecil di awl pagi. Sunarti berjalan seorang diri menuju rumah petak yang dikontraknya, dimana ia dan ketiga buah hatinya tinggal bersama menetapi petakan itu. Sesampainya di depan pintu, Sunarti menghela nafasnya sejenak…., dan segeralah Sunarti memasuki ruangan dimana Santoso, Widyarto, dan si bungsu Yulianti terkapar tidur di lantai yang dilapisi oleh tikar dan tiga helai kain-kain tipis yang menutupi raga ketiga buah hantinya yang sedang tertidur, demi menghadang tusukan dingin malam hari dan awal pagi.
Ruangan itu berukuran kurang lebih 4 x 3 m2, dimana ada sebuah lemari pakain dan rak plastic kecil berukuran setengahnya lemari, dimana rak plastik itu berisi pakaian dalam seluruh anggota keluarga .
Sunarti tetap berdiri menatapi satu persatu untaian buah hatinya, hanya untuk merasa bahwa Sunarti tetap hidup untuk mereka semua. Setelah puas melakukan ritual itu, Sunarti pun segera bergegas untuk mengambil sehelai kaus lusuh dan sepotong celana pendek yang gombrong yang ada di dalam lemari. Sunarti pun beranjak keluar dari ruangan tersebut dan berjalan melewati lorong kecil dimana ujung lorong tersubut terletak sebuah kamar mandi yang biasanya di gunakan oleh penghuni petakan lain yang merupakan tetangga Sunarti.
Sesampainya di kamar mandi, Sunarti segera melucuti pakaian dinasnya dan mengganti dengan kaos dan sepotong celana yang ia bawa tadi. Setelah itu, Sunarti kembali berjalan melewati lorong menuju petaknya dimana ketiga anaknya masih terlelap. Pakaian dinas yang masih di pegangnya segera ia masukkan ke dalam lemari, dan Sunarti pun segera keluar untuk menunggu ketiga anaknya terbangun pada pagi nanti. Sunarti jongkok dan bersandar pada tembok depan petaknya, seraya membakar rokok dan menatap ke atas langit gelap tak berbintang yang akan segera terganti dengan warna khas lainnya dimana sang fajar akan segera hadir.
Tiupan nafas Sunarti menjadi berwarna putih dan kelabu pudar dimana asap yang tersaring paru-paru Sunarti, keluar karena proses saringan terbakarnya tembakau yang ia hisap.
Untaian air mata yang mengalir menuruni pipi Sunarti berkilau…., bagaikan kerlipan dari butiran berlian yang tak ternilai.
Diiringi dengan alunan nada indah senandungan manusia yang berisi pujaan untuk Sang Pencipta dan Seorang utusannya, dimana maksud dan tujuannya adalah untuk memanggil seluruh manusia yang masih terlelap untuk segera bangun, dan menghadap untuk bersimpuh kepada Sang Kuasa.
Sunarti tetap berjongkok dan bersandar pada tembok menunggu hingga suara ayam mulai berkokok, menunggu hitungan waktu saat jarum jam mengarah pada pukul setengah enam, Karena tetap pada saat arah waktu itu, sepasang mata Santoso akan segera terbelak dan mengeluak untuk kembali memimpin kedua adiknya agar memulai hari dengan kilauan pagi. Santoso beranjak dari tikar, dan menyibak sehelai kain yang menutupi raganya, untuk menyapa ibunda tercinta yang sedang berjongkok dan bersandar pada tembok. Santoso pun mengeluarkan kumpulan kata untuk ibunya “ Tuh, kan!… Ibu tuh tiap pagi pasti diluar, termenung terus seperti orang yang haus, tapi terlihat sangat cantik dan bagus”. Sunarti pun sedikit tersentak karenanya, seraya berkata “ Waelaaaah nak?!… kamu ini senang sekali mengagetkan ibumu setiap pagi?!”, Santoso menjawab “Bukan begitu maksud aku bu….., Aku tuh heran kenapa rutinitas ibu tuh?!, tiap pagi berjongkok, nyender di tembok, sambil merokok?!, Aku tuh ingin nya setiap mata ku terbuka langsung melihat wajah ibu…”, Sunarti terawa kecil seraya berkata “ Waktu seperti itu sudah lewat So!. Walaupn kamu sekarang ini masih terhitung anak-anak, tetapi kamu harus bias menjadi kakak sekaligus bapak untuk adik-adikmu itu!, ya sudah sana!, bangunkan mereka!.. Kalian bertiga ini kan harus sekolah!….”.
Hati kecil Sunarti menangis dan berteriak mengeluarkan kata-kata (“ Ibumu berjongkok, bersandar pada tembok, sambil merokok…., karena tidak mau menggangu tidur kalian semua para buah hatiku…., Ibu bisa saja tidur bersama kalian bertiga dan berhimpit-himpitan bersama-sama……, tapi apakah kalian akan terus nyenyak dan terlelap karenanya?…., yang ibumu lakukan henya dapat menunggu….., menunggu kalian bertiga terbangun dari kenyamanan dimana raga dan pemikiran sedang membeku pada saatnya”).
Kali ini air mata tidak menetes pada pipi Sunarti, tetapi air mata telah menumpahi dan membanjiri hati Sunarti.
“ To….., Ti….., ayo bangun yo?!….” , Suara Santoso terdengar dari dalam petak. Kedua tangan Santoso menggenggam kedua betis adik-adiknya sambil menggoyang-goyangkan nya, sambil berkata “ To….., Ti….., ayo bangun yo?!……, kita mandi terus berangkat sekolah yo!….”.
Setelah beberapa kali Santoso mengulangi ritual tadi, maka terbelak lah kedua pasang mata si bungsu Yulianti dan Widyarto. Suara kecil yulianti yang pertama menjawab “ Iya Ka?…, aku bangun!..”, sambil mengulukan sebelah tangannya kea rah Santoso. Dan Santoso pun meraih tangan adiknya tersebut hingga bertranfosmasi dengan posisi terduduk ngantuk, lalu suara dari Widyarto pun terdengar “ Huuu…, kamu ti, manja sekali!….”, dan Yulianti pun menjawab “ Huuu…, bilang saja ka Arto ngiri?!”. Widyarto dan Yulianti pun mulai saling ejek – mengejek, dan Santoso pun tersenyum karena tingkah laku adik-adiknya.
Pintu terbuka, Sang Ibu datang untuk menghampiri anak-anaknya. Sunarti pun berkata “ Arto.., Anti…., ayo sudah!…, pagi- pagi kok sudah ejek-ejakan?!…, ini juga yang tua ko malah senyum-seyum aja?!”. Yulianti dan Widyartoberebut untuk keluarkan suara, tapi Sang Bunda sengela menyelaknya dengan berkata “ Sudah, sudah….., ayo kesini kalian semua!?…”, Dengan Khidmat Sunarti membuka kedua lengan nya, dan dengan khidmat pula ketiga buah hati Sunarti menghampirinya untuk memeluk dan di peluk secara bersama-sama, sehingga dengan naluri hati, Sunarti mencium ketiga kening para buah hatinya.
Di akhirritual hangatnya kasih sayang dan cinta, Sunarti pun berkata “ Ya sudah ya?!…., ayo cepat pada mandi sana!.., sebelum yang lain mau pakai kamar mandinya?!…, tapi ingat ya!.. kalian jangan lama-lama!..”.
Maka dengan lincah nya ketiga buah hati Sunarti bergegas lari menuju kamar mandi. Sesampainya di depan pintu kamar mandi si bungsu adalah yang terlebih dahulu mandi, dan kedua kakak laki-lakinya menunggu giliran di depan pintu. Bungsu Yulianti pun selesai, maka Santoso dan Widyarto bersamaan masuk ke kamar mandi. Untuk mempersingkat waktu mereka mandi bersama.
Yulianti di depan pintu berkata pada Sang Bunda “ Aku selesai bu….” , Sunarti menjawab “ Iya, mari sini!, Ibu pakaikan bajumu”. Tepat setelah Yulianti memakai seragam Santoso dan Widyarto pun tiba untuk mengambil baju seragam yang telah di siapkan Sunarti.

Yulianti duduk di kelas 3 Sekolah Dasar
Widyarto duduk di kelas 5 Sekolah Dasar
Dan, Santoso duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama

Pagi itu ketiga buah hati Sunarti melangkah bersama-sama…….
Pagi itu ketiga buah hati Sunarti tertuju pada niat yang sama……..
Dan, Pagi itu hati Sunarti tersenyum karenanya……………

Pagi itu adalah, pagi dimana Sunarti kembali bermimpi……
Pagi itu adalah, pagi dimana Sunarti memulai untuk terlelap……
Pagi itu adalah, ulangan dari setiap pagi dimana Sunarti tersenyum bermimpi dan segera terlelap.
Pagi itu adalah, lanjutan akan perputaran canda tawa, senyuman, tangisan hati atau pun sayatan-sayatan kepedihan.

Cintanya Sunarti ( Bab I )

Posted in Rangkaian Kata untuk Bercerita with tags on January 12, 2009 by help4mgod

Malam itu hujan, Sunarti seorang perempuan yg mengenakan kaos ketat berwarna merah darah dilengkapi dengan jeans ketat yg bagian bawah kakinya melebar, ia sibuk berlari ke seberang jalan di depan nya untuk berteduh di halte kusam yg di penuhi coretan-coretan dan uapan amis dari bau pipis. Sunarti sudah terbiasa akan hal ini, ia pun segera membakar rokoknya untuk menyegarkan gejolak hati yang ia alami pada setiap hari, karena setelah hujan berhenti maka Sunarti akan kembali membohongi hatinya sendiri.

Akhirnya hujan pun berhenti, Sunarti pun bergegas kembali ketempat ia berdiri tadi, sambil menikmati rokok yg belum habis terbakar.
10 menit Sunarti berdiri….seorang lelaki paruh baya pun datang menghampiri basa basi kepada Sunarti bertanya sedang apa Sunarti berdiri di tempat ini, Sunarti pun langsung menjawab ” Mas mau selimut, saya juga ada tempat kalau mas mau?”, si lelaki tadi menjawab “Emang biasanya berapa?”, Sunarti berkata ” 1-3 jam ya 150 ribu “, Laki-Laki tadi tertawa kecil seraya berkata “Hualah mahal juga ya?saya biasa jajan engga sampe segitu!”, dan Sunarti pun menjawabnya dengan canda ” Yah, mas ini jajan nya gorengan wong saya punya kan bukan?, pokonya sama rasanya mas ngga akan lupa deh!”, Lelaki tadi pun menjawab ” Yah mau sih?!, apalagi dingin begini enaknya ya diselimuti, tapi ya jangan segitu lah mba?!, kemahalan!”, Sunarti menjawab ” Ya memang harganya segitu cuma bedanya saya ini ngga pasang tarif seperti Taksi yang mas tumpangi tadi… “

Keduanya terdiam sejenak…

Akhirnya Lelaki tadi mengeluarkan suara ” Hmmmm, ya suda mba, sekarang gini aja… gimana kalau saya diselimuti untuk 2 jam saja dengan harga 100 ribu gimana?”, ” Hualah mas ini?! ya sdh deh ngga apa-apa” ( kriiiukkk ) terdengar lambung Sunarti bernyanyi. Laki-laki tadi berucap ” Loh mba blm makan?”, kalau gitu kita makan dulu di warung sana ( sambil menunjuk warung kopi kecil yang buka 24 jam ), Sunarti pun hanya mengganguk tak menjawab dengan kata-kata.

Maka berjalanlah mereka berdua ke warung tadi, di sepanjang perjalanan bayak kawan satu profesi dengan Sunarti yang memanggil sambil menggoda lelaki yang bersama Sunarti ” Mas, sama saya aja yok?! dijamin lebih sip!”, ada juga yang berkata ” Mas saya punya rasa gadis loh! dijamin sadis”, Laki-laki itu tak berkata apa-apa, ia hanya melihat wajah-wajah para perempuan teman satu profesinya Sunarti.

Tiba lah Sunarti dan si lelaki di warung kopi. Di dalam warung ada pemilik dan satu orang perempuan teman satu profesi Sunarti yang sedang merokok sambil menyikukan tangan nya di meja kayu papan kecil yang terpaku di depan etalase jajanan yang berisi kopi sachet dan tumpukan plastik-plastik mie instant. teman Sunarti ini bernama Darsih. Darsih pun berkata pada Sunarti ” waduh Narti!.. enaknya?! sudah dapat boss di awal pagi.”, Sunarti menjawab ” Yah namanya juga usaha, kan berdiri nya sudah 2 jam tadi Sih!, ini baru yang pertama kan buat saya?!.Kamu gimana Sih? sedari tadi kayaknya sudah rame pasien ya? sampai kamu nganclok disini, sudah letih ya?”
Darsih pun menjawab ” Iya Ti sudah tiga malam ini, saya rasa sudah cukup lah untuk besok makan.” ” Wah enaknya setoran dapur sudah ada, halah tapi kamu ini kan belum ada beban, anak saja ngga punya!” jawab Sunarti. Sang Lelaki hanya terdiam mendengarkan perbincagan Sunarti dan Darsih. Tak lama kemudian berselang datang sang empunya warung, ia muncul dari belakang warung yang pintunya tertutup oleh gorden kusam, dan entah apa isi dari ruangan belakang tersebut? mungkin saja isi nya kamar tempat istirahat dari si pemilik warung itu atau kamar mandi atau ruangan apapun itu yang jelas pastilah ruangan tempat pribadi dari si empunya warung.Perbincangan Sunarti dan Darsih pun di potong oleh suara si empunya warung ” Mau pesen ape nih pak?” dan si Lelaki pun menjawab ” Kamu dulu yang pesen Narti!, Narti kan namanya?”,( sambil senyum-senyum kecil si Lelaki tadi mengahadapkan muka ke Sunarti).

Tiba lah Sunarti dan Lelaki tadi di kamar kecil berukuran 3 x4 meter persegi. Dimana kamar ini berada di suatu tempat di pinggiran sebuah pasar, dan tepat di sebelah kamar ada 3 kamar lagi sejajar dengan kamar yg disinggahi Sunarti dan Si Lelaki….

Kamar kecil ini hanya diterangi lampu bohlam 15 watt, dan dilengkapi dengan kasur kapuk yg sudah gepeng tak lekang di makan waktu, ataupun benalu-benalu nafsu dari para pemakai terdahulu. Perbicangan Suanrti dan Si Lelaki pun di mulai kembali.
Sambil membuka kaus merah nya untuk memulai Sunarti berkata “ Gimana mas? Mau langsung saja? “ ….
Si Lelaki hanya terdiam dan tersenyum…dan ia pun berkata “ Nanti dulu saja!, biarkan mengalir seperti memakai cinta”….
Sunarti pun tertawa sambil berkata “huaaaalaaaaaah, masssssss?! Masih saja mau memalsukan cinta?.. Lagi pula cinta itu bukannya milik pujangga?… atau pun hanya ada di karangan cerita ataupun lagu-lagu sendu yang terjual dimana-mana?….”.
Si Lelaki menjawab “ Kamu ini memang belum pernah alami? Dimana dua isan manusia salin mencinta?”.
“ Yang saya alami itu mas di campakan lelaki dan meninggal kan 3 bidak cinta yang semuanya harus terus menerus saya umpani,,,” jawab Sunarti.
“ Wah hal macam ini si sudah jadi cerita biasa bagi orang seperti kamu kan, Narti? Saya sudah sering lihat dari televisi ataupun baca-baca dari buku cerita yang isinya di penuhi duri..” jawab si Lelaki
Sunarti merasa agak kesal sambil berkata dengan nada yang aga keras ”Apapun yang mas lihat, maupun mas baca atau dengarkan, itu semua hanya bentuk luapan dari pada tipuan dimana tak ada lagi kejayaan dari tindakan perasaan!…., dan apakah televisi, buku, maupun lagu-lagu telah merasakan apa yang mereka ungkapkan?”.
Si Lelaki hanya terdiam karena takjub dengan apa yang dikeluarkan oleh kalimat-kalimat Sunarti.
“ Ya sudah mas!, ayo sekarang di mulai saja!, dari pada semakin lama kita hanya bicara semua tentang fana…” Kata Sunarti.
Si Lelaki mejawab “ Nanti dulu saya masih belum puas!, mendegar semua luapan kamu!”.
Sunarti menjawab “ Mas! Kalau mau beli cinta jalan-jalan di mall sana!, banyak wanita muda yang akan senang di ajak pergi jauh dari realita!” Sunarti benar-benar merasa geram kali ini.
Sunarti pun kembali berkata “ Jangan-jangan mas ini sengaja ajak saya bicara, agar tidak bayar ya?, kalau mau cari teman bukan di kamar ini mas!”.
Si Lelaki hanya tersenyum “Tenang Narti, saya bukan penipu..”. Ia pun mengeluarkan dompet nya dan memberikan Sunarti tiga lembar uang pecahan seratus ribu.
Sunarti menolaknya, ia hanya mengambil selembar dan segera bergegas untuk pergi. Akan tetapi Si Lelaki menjambret lengan Sunarti sambil berkata “ Jangan pergi…., saya mohon terima uang ini!, saya Cuma tidak mau habiskan malam ini sendiri Narti…”.
Sunarti menengok kebelakang untuk melihat wajah Si Lelaki sambil berkata “ Hualaaaaah, paling mas ini wartawan yang mau cari tahu tentang kehidupan orang seperti saya!, si penjual kenikmatan rayuan setan!”.
Si Lelaki menjawab “ Bukan Narti!, saya bukan siapa-siapa… seperti yang saya bilang tadi, saya hanya orang yang tidak mau habiskan malam ini sendiri, dan entah kenapa mala mini terasa sangat sepi bagi saya”.
“ Jadi tolong lah ambil saja uang ini!, saya hanya minta Narti menemani..”
Dan Si Lelaki menyuruh Sunarti duduk di hadapan nya, mereka pun berbincang-bincang…., dan tanpa disadari posisi duduk berhadapan berubah menjadi tiduran bersebelahan, di mana keduanya tetap di dalam percakapan dan tenggelam di dalam banyak pertanyaan maupun bungkusan candaan.

Bab Awal pada Lembaran Terakhir dalam Sebuah Buku

Posted in Uncategorized with tags on December 31, 2008 by help4mgod

Rasa sakit yang dulu ada jadi bentuk sebuah luka
Akan tetapi sebuah lukapun dapat disembuhkan
Oleh banyaknya keadaan yang akan menetapkan tujuan
Jika luka menjadi sebuah borok, maka selayaknya kau cepat untuk hentikan agar tubuh mu tak menjadi bobrok.

Keindahan dari sebuntuk luka tak dapat kau ungkapkan dengan kata
seperti yang kau ucapkan pada sekuntum bunga,
Karena luka yang membusuk adalah sesuatu yang amat bermakna
setiap kata pun tak dapat mengartikannya.

Jangan pernah melihat sesuatu yang terlihat buruk menjadi terpuruk
Karena tanpa sesuatu yang busuk dunia tak akan bermakna
Dunia hampa, berjalan sendirinya seperti telah terencana
Padahal dalam kenyataannya sebuah rencana hanyalah Tuhan yang mengetahuinya
Kita hanyalah sebuah bagian kecil dari setiap rencananya.

Orang lain lebih memilh berdiri tegak untuk menahan setiap terjangan ombak.
Tetapi tidak bagiku diriku lebih suka terbawa oleh ombak,
karena pada akhirnya,ombak itu akan membawa diriku kepada tempat semula,
bahkan kesuatu tempat yang tak pernah terlihat sebelumnya,
Ombak yang membawaku pun adalah suatu rencana dari dia Sang Maha Pencipta,
Diriku pun akan lebih nyaman.
Jika terus saja berada pada apa saja yang ia berikan.

Disaat orang lain melangkah ke depan,
Seorang seperti aku lebih memilih untuk berjalan mundur kebelakang,
Untuk merancang sebuah loncatan agar kau dapat terbang melayang ketempat yang sebelumnya tak pernah terbayang.
Disaat kita menjadi terbelakang kita dapat sadari banyak hal seperti ini:
Aku jadi tahu siapa yang akan menenggokkan wajahnya padaku,
Aku jadi tahu siapa yang akan berikan tangannya padaku,
Aku jadi tahu siapa yang berpaling dariku,
Aku jadi tahu siapa yang menghina dan membuatku malu,
Aku pun jadi tahu akan kemana arah yang aku tuju.

Setelah nanti aku berada ditempat yang orang lain ingin miliki.
Ternyata aku menyadari bahwa hari kemarin yang aku lewati adalah Bab Awal pada Lembaran Terakhir dalam Sebuah Buku.

Kata bukan ungkapan makna

Posted in Uncategorized with tags on December 31, 2008 by help4mgod

Api amarah dapat menambah
emosi menjadi lebih parah,

Pikiran dan hati menjadi tidak serasi,
logika dapat terima apa yang terjadi,
tetapi tidak dengan hati…

Sebotol air keras yang tutup botolnya terbuka siap menyiram untuk individu yg telah membuat mu terluka.

Begitu pula dengan kata yang keluar dari mulut seorang durjana, berkata seenaknya demi beritahukan sakit apa yang ia rasa.

Air keras pun tersiram,
Kata pun menghujam,

Mengeluarkan segala bentuk luapan untuk racun kepada hati…

Hebat!!!!!!……
Tuhan telah menciptakan manusia penuh dengan logika, hingga dapat ciptakan banyak dari bentuk kata terkumpulkan jadi suatu ungkapan.

Hebat!!!!!…….
Manusia dapat berucap sesuai keinginan, dari kumpulan kemarahan.

Dan di saat situasi telah
Menjadi sepi…
Emosi menepi…,
dan logika pun berjalan lagi.

Di saat itulah manusia baru tahu apa yang terjadi.

Waktu yg lewat tak dapat kembali lagi.

Kata menjadi begitu bermakna,
Kata menjadi ada,

Tapi sebuah kata bukanlah segalanya,
Kata bukan tusukan seperti perlakuan,
Kata bukan arti dari makna.

Karena dahulu kata tidak ada.
Perilaku yang terbentuk lebih dahulu.
Jauh sebelum manusia gunakan logika.
Karena pada awalnya manusia hanya mengenal rasa.

Sebuah Goresan Untuk Kawan

Posted in Obesesi Untuk Mati with tags on December 31, 2008 by help4mgod

Di sebuah lorong gelap pada sebuah gang kusam pada tahun 94, kita tertawa riang meninggikan khayalan khayalan…

Khayalan yang tak mungkin orang fikirkan.
Khayalan murni dari apa yg kita imajinasikan.

Halusinasi kita menjadi mimpi.
Kita berdua selalu berusaha merubahnya menjadi pasti!..

Kau mengajari aku merubah goresan pensil
menjadi bentuk sebuah hidung bulat.
Yang ada pada karakter komik dari Prancis bernama Asterik.

Aku menjadi bocah ingusan yang kau bimbing tuk jadi seniman lukis yang dibentuk dalam satu rasa yang sadis.

Aku selau kagum, bangga, dan menganga setiap melihat jari mu menari di atas secarik kertas,
dengan sebatang pensil yang diserut menggunakan silet.

Sehabis jari menari, mulut mu tak mau berhenti bicara tentang semua yang kau mimpi.

“Menggambar tapi dibayar!!!!”

Sayang kita hidup di beda zaman,
Kita terpisah karena waktu kelahiran kita terpaut jauh.

Dan temanmu bukan temanku…

Kudengar kabar, kau tinggalkan pensilmu,
kertas mu..tapi tidak imajinasimu.

Kau merubahnya menjadi darahmu, nadimu…
tapi tidak imajinasimu.

Bocah ingusan seperti diriku melihat mu bukan lagi menjadi teman atau kawan.
Apalagi saudara sepersepuan….

Anjing!!!!… kata2 tadi hanya kuteriakan di hati.

Aku cuma memaki dengan imajinasi..selalu terbungkus dalam hati.

Anjing!!!!… kau datang menghampiri untuk ditemani,
kakiku ikuti kau pergi kedaerah yang ternyata setelah remaja aku tahu itu disebut ROXY,,

Anjing!!!!… kau bodohi diriku lagi untuk menemanimu kembali!!!
kau bilang kita berangkat ke BALI ternyata letaknya di Jakarta.
tempat segala macam pecinta besi penusuk nadi berkompromi.

Diriku benar2 tak kau ingat lagi,
Apalagi ada bidadari cantik yang bersedia mati bersamamu…
Lama kelamaan pun sang bidadari kau rubah jadi setan yang juga pecinta besi penusuk nadi.

Diriku menyepi, jauh tinggalkan langkah mu…
Bocah ingusan seperti diriku, coba neraih mimpimu…

“Menggambar tapi dibayar!!!!”

Orang asing mulai menghargai coretan ku,
Seharga Rp.1500,- atau dengan sekatong plastik es, lengkap dengan jajanan anak igusan.
Tapi itu semua menyita waktu ku, membuat ku jadi pecandu akan imajinasiku…
yg kutuangkan pada kertas2 buku bersampul coklat bergambarkan burung Garuda didepannya.

Aku menjadi pecandu untuk mencoret buku2…
Dan kau pun jadi pecandu untuk bungkusan kertas lusuh paketan 25 ribu pada saat itu…

Hey, Anjing!!!!
Cita2 mu ada pada diriku…
Aku tak tahu?!…
andai saja kau jadi pecandu yang sama dengan ku,
mungkin aku lepaskan angan2 yg jadi cita2 mu.

Banyak tahun kelabu melaluiku.
Mungkin begitu juga denganmu?..
Aku hanya bisa dengar cerita tentang mu dari mulut2 orang dewasa,
Yang masih saudara kita berdua….

Aku adalah bocah ingusan yang amat bangga akan diri sendiri,
Yang dapat kan bayaran dari menggambar.
Ingin sekali aku ceritakan pada saat2 kita bertemu,
Tapi dirimu hanya mendekap diri di kamarmu yang sangat bau.
Kau yang kukenal dulu, menjadi orang yang sangat asing bagiku.

Kita sama2 pecandu, racun yang kau berikan padaku begitu bagus!!!
Sampai diriku rela untuk jadi rakus, bahkan sampai mampus!!! olehnya..

Kudengar bidadari mu telah pergi menjauhi dirimu,
dan kau telah terinfeksi karya agung dari besi penusuk nadi…

Tak lama kudengar dirimu telah pergi tinggalkan duniawi,
Ku kira itu hanya halusinasi, mimpi, atau imajinasi tinggi….

Sampai akhirnya kulihat raga yang mati,
bergores tinta hitam permanen menutup punggung mu yg pucat pasi.

Aku tidak bermimpi, Aku tidak berhalusinasi, dan aku tidak berimajinasi..
sesosok raga panjang, yang telanjang tak bergerak atau terbelak.

Aku ikuti rombongan keluarga kita ketempat sepi, bersuasana sedih…
menusukan luka2 pada hati yang kau tinggal pergi, bidadari mu tak tampak tunjukan diri…
sementara diriku ikuti suasana sunyi, sepi yang tadinya kukira mimpi,
Biarlah ini semua hanya jadi coretan tanpa arti.

Sudah banyak yang aku alami…
dan sekarang diriku menjadi pencadu yang lebih dalam lagi dengan media yang beda…

jika saat ajal menjemput ku pergi…..
Aku ingin kita jadi pecandu lagi, pecandu yang parah, pecandu yang searah!!!!…
Aku rela mati demi mimpimu,
Aku akan kejar semua angan mu…
Karena kurasa dunia mu, juga dunia ku.

Kita akan bermimpi, berhalusinasi, dan keluarkan khayalan tingkat tinggi sekali lagi…
Sebatang pensil, sobekan kertas, atau obrolan yang tak pernah tuntas tentang gaya sadis akan karya lukis.

Mari jadi pecandu sekali lagi….
Walau hal itu hanya terjadi dalam mimpi.

Helaian Uban Sang Bapak

Posted in Obesesi Untuk Mati with tags on December 31, 2008 by help4mgod

Siang itu diriku menemani mu
Berbincang-bincang mengenai pendekatan diri kepada Sang Kuasa
Perbicangan pun selesai, Setengah cangkir kopi susu, kau sisakan untuku
Hah…. Hal itu adalah sebuah isyarat bahwa kau akan beranjak pergi
Meniggalkan rumah dan akan datang seminggu lagi

Dan diriku ku pun sengaja ikuti jejak langkah mu, untuk antarkan kepergian mu
Kereta mu pun melaju, menyisakan jejak karet hitam, atau jiplakan tanah kering di jalan.
Setelah kereta mu tak terlihat lagi…..
Maka aku segera memeriksa keadaan berharap untuk jadi sepi…
Agar tak ada orang yang dapat melihatku, disaat aku mengusap-usap jejak yang tertinggal tadi.
Hah… Sambil mengusap, aku berucap “tadi bapak dari sini,Minggu depan pasti datang lagi!!”
Tanpa kusadari akupun berbicara sendiri.

Bapak yang kukenal adalah bapak yang berambut putih
Seperti aktor film barat yang bernama “Richard Gere” kata ibuku.
Hahahahaha, hal ini membuat ku tertawa jika mengigatnya?!

Pernah kau tak datang sampai 2 minggu
Membuat fisikku melemah, bagaikan manusia yang tak punya gairah
Dan pada saat itu pulalah, ibu mulai menghubungj mu….
Untuk memohon kau dapat hadir dihadapanku.
Keesokannya kau tiba, Gilaaaaa!!!!!
Sungguh hebat kebesaran yang kuasa
Hanya dengan melihat mu, aku dapat kembali berdiri
Hanya dengan senyummu, hati ku penuh terisi..
Dan saat kau bertanya padaku. “ Kenapa katanya Kamu sakit?”
Karena teramat senangnya aku tak dapat berucap, hanya mengangguk menjawab perkataan mu.
Karisma mu begitu tinggi bagiku, hanya dirimu yang membuat ku tak berani berbicara,
Hanya dirimu yang membuat ku tak berani berkata…

Pernah disaat kau datang aku berpura-pura untuk tidak tahu
Aku berlaga tertidur saat ku dengar langkah mu…
Maka disaat kau membuka pintu kamar untuk melongok ku,
Aku berharap kau menghampiriku untuk mengusap rambut ku…
Sebuah kalimat indah tebuang dari mulut mu
Kau berkata pada ibu, Bahwa betapa berharganya diriku bagi mu…

Waktu pun berlalu…
Sudah banyak bertambah sekarang umurku, begitu juga dengan mu
Helai uban itu bagaikan suatu dogma yang selau mebekas dibenakku.

Waktu pun berlalu…
Banyak hal yang telah merubah diriku, sehingga merubah perasaanku menjadi ragu
Banyak hal yang merancun di otakku agar diriku membenci mu
Sehingga tertanam di benakku bahwa tak ada keadilan dari dirimu.

Diriku pun berubah, hal yang dulu sering kulakukan tak lagi kupedulikan
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama teman
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama preman
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama canduan
Saat itu aku tak menyadari, diriku hanya bermain-main dengan perasaan

Seperti yang kukatakan tadi, karisma mu begitu tinggi.
Membuat aku tak berani membuka mulut ini, untuk bertanya padamu…
Apakah benar?
dengan segala ucapan yang ku dengar pada hampir setiap hari?
Apakah benar?
Bahwa dirimu hanya gunakan birahi, tanpa memakai hati?

Ya!….
Maka banyak lah pertayaan yang terkunci dalam hati.
Merubah hati ku menjadi besi pagar, yang tergembok oleh karat-karat.
Merubah rasa senang ku, menjadi rasa benci yang tak dapat dijelaskan atau digambarkan.
Walau begitu, aku tetap tak berani memaki…
Aku hanya memaki mu, melalui pelarianku…
Melalui semua tempat persembunyian ku…
Dari dalam lemari, kolong ranjang berdebu yang terbuat dari besi,
Ataupun berlama-lama di kamar mandi,
untuk mendapatkan suasana sepi berpadu dengan luapan emosi….

Tanpa kusadari diriku jadi tak peduli…..
Tanpa kusadari dirimu jadi tak berharga lagi….

Saat tiba waktunya, detik-detik menjelang kehancuran dari semuanya
Saat tiba waktunya, fisikmu tak lagi gagah seperti sebelumnya
Saat tiba waktunya, kau terbaring di ranjang rumah sakit tanpa kenal siapa yang menjengguknya
Saat tiba waktunya, kau terus berucap-ucap terus menerus memuja yang kuasa
Saat tiba waktunya, kau mengusap-usap semua benda di sekitarmu untuk menyucikan diri

Periiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih….Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…….dan Hal yang aneh saat melihat mu seperti itu
Aku hanya bisa berlari, kali ini dengan gadis mungil yang menggunakan hati
Karena dengannya diriku bagaikan bermimpi..dan jadi lupa diri
Ia adalah candu yang terparah yang pernah kugeluti, sehingga aku terbiasa berlari.
Berlari dari kenyataan yang terjadi, dan terus bermimpi.

Tiba waktunya pada keesokan pagi.
Dering suara telp rumah pun berbunyi.
Ibu sedang berbincang dengan kakanya, dan memanggilku untuk beranjak mengangkat telp itu.
Saat aku menggangkatnya, aku mendengar suara perempuan dengan suara berat…
Ia berkata..”Namaku disebut,… Bapak sudah pergi………!!!!”
Aku hanya terdiam….
Aku tenggelam…..
Kali ini aku benar-benar tak bisa berucap.
Kali ini peran ku benar-benar bodoh!!!!!!!!
Kalimat yang keluarpun teramat bodoh!!!!!
Yang terlontar adalah “Apa benar teh?!, ah teteh pasti bohong!!!”
Dia menjawab dengan nada yang lebih berat lagi “iyaaaaaaa….dan namaku disebutnya lagi”.
Tanpa kusadari gagang telp yang kugemgam terlapas,
menimbulkan suara yang memancing ibu dan kakaknya melihat kearah ku.
Aku berkata sambil berlari menuju kamar melontarkan kalimat “ Bpk udah ngga ada…!”

Dahulu aku sangat senang mengantar kepergian mu,
Tapi sekarang aku tidak sedikit pun ada di saat kepergian mu…
Kepergian yang benar-benar pergi
Kepergian yang akan membuat hari-hari ku akan lebih sepi…

Kamarpun sengaja ku kunci, Aku benamkan wajahku kedalam bantal untuk membasahi kainnya dengan genangan air mataku…

Aku dekap wajahku sekuat-kuatnya dengan bantal itu,
sehingga tak ada lagi udara masuk ke paru-paruku
sehingga mebuat diriku berniat mencari kemana tempat pergi mu…

Saat bunyi keras dari gebrakan pintu,
maka lepas lah dekapan bantal itu dari wajahku yang mulai membiru
Saat aku bergerak untuk melakukannya lagi….
Banyak tangan yang menghampiri untuk mencegah tindakan ku tadi,
Saat mataku terbuka lagi, terlihat wajah ibu yang beraut sedih
Ia berteriak kepadaku, Untuk menyuruh ku untuk mengigat Kuasa Tuhan
Ia berteriak kepadaku, Untuk menyuruh ku untuk menjadi orang yang kuat
Akupun kembali membenamkan diriku, tapi kali ini kepelukannya.

Maka aku mengambil tindakan, untuk segera menggunduli habis rambutku.
Karena pada saat itu gaya yang kumiliki adalah gaya seorang pelari…
Dengan potongan botak disamping, dan sisa rambut pada bagian tengah kepalaku.

Maka hal yang terberat hal setelahnya, dimana aku harus menjemput adik-adiku yang bersekolah…
Untuk menyampaikan suatu kabar yang akan melemahkan hati mereka semua.

Maka hal-hal yag lebih berat lagi adalah setelahnya
Setelahnya…..
Dan setelahnya….
Dan setelahnya lagi….

SETELAHNYA LAGI!!!!…..
SETELAHNYA LAGI!!!……
LAGI!!!!…..
LAGI!!!!!….
LAGI, DAN LAGIIIIIII!!!!…………….

Lama kelamaan, diriku terbiasa menghadapi
Lama kelamaan, aku kembali menjadi pemimpi
Akan tetapi kali ini suatu angan yang mungkin akan menjadi solusi…

Tanpa kusadari,
Ternyata dirimu adalah seorang pelukis yang menumpahkan banyak warna di kain kanvas putih
Ternyata diriku adalah sebuah hasil jadi dari apa yang kau lukis.

Kau adalah seniman terhebat yang pernah ada di muka bumi!!!
Kau adalah karya seni terindah yang pernah aku jumpai!!!

Kau membentuk ku merasakan senang,susah,sedih, dan banyak hal yang tak akan ku ucap lagi..

Dan kelak aku akan meyusulmu, ketempat di mana engkau pergi
Tetapi sebelum itu, aku pun akan mengikuti jejak mu…
Tetapi sebelum itu, aku pun akan melukis seperti mu…

Aku juga akan menjadi pelukis!!!
Sama seperti mu, akan tetapi dengan warna dan goresan-goresan yang berbeda

Tak sabar jiwa ini untuk bertemu, Wahai Bapakku…….

Cipratan Nanah Ludah Penjarah

Posted in Republik Indonesia with tags , on December 28, 2008 by help4mgod

Musim semi, musim kemarau, musim panas, musim hujan, atau berbagai macam musim yang mengisi seluruh negeri dan bumi sekarang berganti…

Yang ada musim mimpi, musim eliminasi, musim kampanye untuk menggulingkan tempat duduk pemimpin dan para petinggi-petinggi yang setia membelakangi para pemimpin yang punya banyak mimpi….

Sekarang saya adalah raja dan kalian adalah rakyatnya!
maka saya pun bisa seenaknya berkata tentang apaun yg tertancap di dalam logika yang saya punya dengan sangat nyamannya.

Sekarang saya adalah raja dan kalian adalah rakyatnya!
maka saya pun bisa menjanjikan apapun yang bisa membuat rakyat bermimpi karenanya, walaupun semuanya itu adalah nista.

Jika saja seorang pemimpin seperti saya maka hinalah sepuasnya, hinalah seenaknya, dan jikalau bisa renggut saja nyawa saya dengan berbagai macam cara yang menurut kalian saya akan merasa lebih tersiksa, biar saya jadi tahu akan rasa nikmatnya disiksa dan menjadi terhina dengan segala macam hal yang saya kata maupun saya rancang sebelumnya.

Khalayak seperti anda pasti bangga jika saja mempunyai pemimpin yang sangat jorok dan memiliki banyak borok! tetapi memuntahkan bau-bau yang wangi karena tak ada pembatasan untuk menghalangi..

Dan pemimpin yang diidamkan oleh khalayak adalah seorang yg diikuti oleh petinggi-petinggi yang gemar membuat ilustrasi dari luka-luka busuk yang terbuka sangat lebar dan menganga….

Khalayak seperti anda pasti menghina jika saja mempunyai pemimpin yang sangat bersih dan terseyum tiap hari tanpa harus menyikat gigi, karena malam tadi terasa indah terbuai mimpi dan membayangkan bermacam-macam warna warni terbentuk menjadi realisasi….

Dan pemimpin yang diidamkan oleh khalayak adalah seorang yg diikuti oleh petinggi-petinggi yang gemar membuat imajinasi yg membuang segala realisasi yang sedang terjadi…..

Musim pun berganti lagi…
huruf, angka, kata, dan warna dicipratkan dalam banyak media…
ada yang bilang ” Pilihlah saya untuk masa depan anda “
ada yang bilang ” Coblos angka saya maka sejahtera “
ada yang bilang ” Ingat janji saya, maka anda jauh dari celaka “

Maka kita bisa menghitung semuanya dari akumulasi setiap kata dan apapun itu bentuknya!, karena nnominal dari semuanya pasti lah keluar dari logika kita semua para kaum hina yang dijadikan bahan aniaya.

Musim pun berganti lagi…
Sang pemimpin dan petinggi kini telah sah mendapatkan kursi
ada yang bilang ” Rakyatku kita harus prihatin “
ada yang bilang ” Rakyatku negeri kita ini miskin “
ada yang bilang ” Rakyatku kalian semua harus tahu diri “

Maka kita bisa merenung karena nya, padahal saat dahulu kala mereka bisa bersuara tentang harapan dan berbagai tujuan?! waduh?! kalau begini terus kita bisa mengkerut dan hanya merengkut….
Ya harap dimaklumi saja, kalau mau jadi pemimpin kan butuh modal yang ga bisa dihitung logika, jadi seorang pemimpin dan petinggi-petinggi kita sebenarnya sedang sibuk untuk mengembalikan modal yang telah terbuang ke comberan-comberan kotor, maupun tumpukan sampah tempat bebagai jenis ludah bercampur menjadi darah, dan berevolusi menjadi nanah.

Kalian semua wajib bersyukur karena sampah, ludah, darah, dan nanah juga suatu anugerah.

M.Yamin

Posted in Republik Indonesia with tags , , , , on December 4, 2008 by help4mgod