Siang itu diriku menemani mu
Berbincang-bincang mengenai pendekatan diri kepada Sang Kuasa
Perbicangan pun selesai, Setengah cangkir kopi susu, kau sisakan untuku
Hah…. Hal itu adalah sebuah isyarat bahwa kau akan beranjak pergi
Meniggalkan rumah dan akan datang seminggu lagi
Dan diriku ku pun sengaja ikuti jejak langkah mu, untuk antarkan kepergian mu
Kereta mu pun melaju, menyisakan jejak karet hitam, atau jiplakan tanah kering di jalan.
Setelah kereta mu tak terlihat lagi…..
Maka aku segera memeriksa keadaan berharap untuk jadi sepi…
Agar tak ada orang yang dapat melihatku, disaat aku mengusap-usap jejak yang tertinggal tadi.
Hah… Sambil mengusap, aku berucap “tadi bapak dari sini,Minggu depan pasti datang lagi!!”
Tanpa kusadari akupun berbicara sendiri.
Bapak yang kukenal adalah bapak yang berambut putih
Seperti aktor film barat yang bernama “Richard Gere” kata ibuku.
Hahahahaha, hal ini membuat ku tertawa jika mengigatnya?!
Pernah kau tak datang sampai 2 minggu
Membuat fisikku melemah, bagaikan manusia yang tak punya gairah
Dan pada saat itu pulalah, ibu mulai menghubungj mu….
Untuk memohon kau dapat hadir dihadapanku.
Keesokannya kau tiba, Gilaaaaa!!!!!
Sungguh hebat kebesaran yang kuasa
Hanya dengan melihat mu, aku dapat kembali berdiri
Hanya dengan senyummu, hati ku penuh terisi..
Dan saat kau bertanya padaku. “ Kenapa katanya Kamu sakit?”
Karena teramat senangnya aku tak dapat berucap, hanya mengangguk menjawab perkataan mu.
Karisma mu begitu tinggi bagiku, hanya dirimu yang membuat ku tak berani berbicara,
Hanya dirimu yang membuat ku tak berani berkata…
Pernah disaat kau datang aku berpura-pura untuk tidak tahu
Aku berlaga tertidur saat ku dengar langkah mu…
Maka disaat kau membuka pintu kamar untuk melongok ku,
Aku berharap kau menghampiriku untuk mengusap rambut ku…
Sebuah kalimat indah tebuang dari mulut mu
Kau berkata pada ibu, Bahwa betapa berharganya diriku bagi mu…
Waktu pun berlalu…
Sudah banyak bertambah sekarang umurku, begitu juga dengan mu
Helai uban itu bagaikan suatu dogma yang selau mebekas dibenakku.
Waktu pun berlalu…
Banyak hal yang telah merubah diriku, sehingga merubah perasaanku menjadi ragu
Banyak hal yang merancun di otakku agar diriku membenci mu
Sehingga tertanam di benakku bahwa tak ada keadilan dari dirimu.
Diriku pun berubah, hal yang dulu sering kulakukan tak lagi kupedulikan
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama teman
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama preman
Yang ada hanya pelarian, bermain-main bersama canduan
Saat itu aku tak menyadari, diriku hanya bermain-main dengan perasaan
Seperti yang kukatakan tadi, karisma mu begitu tinggi.
Membuat aku tak berani membuka mulut ini, untuk bertanya padamu…
Apakah benar?
dengan segala ucapan yang ku dengar pada hampir setiap hari?
Apakah benar?
Bahwa dirimu hanya gunakan birahi, tanpa memakai hati?
Ya!….
Maka banyak lah pertayaan yang terkunci dalam hati.
Merubah hati ku menjadi besi pagar, yang tergembok oleh karat-karat.
Merubah rasa senang ku, menjadi rasa benci yang tak dapat dijelaskan atau digambarkan.
Walau begitu, aku tetap tak berani memaki…
Aku hanya memaki mu, melalui pelarianku…
Melalui semua tempat persembunyian ku…
Dari dalam lemari, kolong ranjang berdebu yang terbuat dari besi,
Ataupun berlama-lama di kamar mandi,
untuk mendapatkan suasana sepi berpadu dengan luapan emosi….
Tanpa kusadari diriku jadi tak peduli…..
Tanpa kusadari dirimu jadi tak berharga lagi….
Saat tiba waktunya, detik-detik menjelang kehancuran dari semuanya
Saat tiba waktunya, fisikmu tak lagi gagah seperti sebelumnya
Saat tiba waktunya, kau terbaring di ranjang rumah sakit tanpa kenal siapa yang menjengguknya
Saat tiba waktunya, kau terus berucap-ucap terus menerus memuja yang kuasa
Saat tiba waktunya, kau mengusap-usap semua benda di sekitarmu untuk menyucikan diri
Periiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih….Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…….dan Hal yang aneh saat melihat mu seperti itu
Aku hanya bisa berlari, kali ini dengan gadis mungil yang menggunakan hati
Karena dengannya diriku bagaikan bermimpi..dan jadi lupa diri
Ia adalah candu yang terparah yang pernah kugeluti, sehingga aku terbiasa berlari.
Berlari dari kenyataan yang terjadi, dan terus bermimpi.
Tiba waktunya pada keesokan pagi.
Dering suara telp rumah pun berbunyi.
Ibu sedang berbincang dengan kakanya, dan memanggilku untuk beranjak mengangkat telp itu.
Saat aku menggangkatnya, aku mendengar suara perempuan dengan suara berat…
Ia berkata..”Namaku disebut,… Bapak sudah pergi………!!!!”
Aku hanya terdiam….
Aku tenggelam…..
Kali ini aku benar-benar tak bisa berucap.
Kali ini peran ku benar-benar bodoh!!!!!!!!
Kalimat yang keluarpun teramat bodoh!!!!!
Yang terlontar adalah “Apa benar teh?!, ah teteh pasti bohong!!!”
Dia menjawab dengan nada yang lebih berat lagi “iyaaaaaaa….dan namaku disebutnya lagi”.
Tanpa kusadari gagang telp yang kugemgam terlapas,
menimbulkan suara yang memancing ibu dan kakaknya melihat kearah ku.
Aku berkata sambil berlari menuju kamar melontarkan kalimat “ Bpk udah ngga ada…!”
Dahulu aku sangat senang mengantar kepergian mu,
Tapi sekarang aku tidak sedikit pun ada di saat kepergian mu…
Kepergian yang benar-benar pergi
Kepergian yang akan membuat hari-hari ku akan lebih sepi…
Kamarpun sengaja ku kunci, Aku benamkan wajahku kedalam bantal untuk membasahi kainnya dengan genangan air mataku…
Aku dekap wajahku sekuat-kuatnya dengan bantal itu,
sehingga tak ada lagi udara masuk ke paru-paruku
sehingga mebuat diriku berniat mencari kemana tempat pergi mu…
Saat bunyi keras dari gebrakan pintu,
maka lepas lah dekapan bantal itu dari wajahku yang mulai membiru
Saat aku bergerak untuk melakukannya lagi….
Banyak tangan yang menghampiri untuk mencegah tindakan ku tadi,
Saat mataku terbuka lagi, terlihat wajah ibu yang beraut sedih
Ia berteriak kepadaku, Untuk menyuruh ku untuk mengigat Kuasa Tuhan
Ia berteriak kepadaku, Untuk menyuruh ku untuk menjadi orang yang kuat
Akupun kembali membenamkan diriku, tapi kali ini kepelukannya.
Maka aku mengambil tindakan, untuk segera menggunduli habis rambutku.
Karena pada saat itu gaya yang kumiliki adalah gaya seorang pelari…
Dengan potongan botak disamping, dan sisa rambut pada bagian tengah kepalaku.
Maka hal yang terberat hal setelahnya, dimana aku harus menjemput adik-adiku yang bersekolah…
Untuk menyampaikan suatu kabar yang akan melemahkan hati mereka semua.
Maka hal-hal yag lebih berat lagi adalah setelahnya
Setelahnya…..
Dan setelahnya….
Dan setelahnya lagi….
SETELAHNYA LAGI!!!!…..
SETELAHNYA LAGI!!!……
LAGI!!!!…..
LAGI!!!!!….
LAGI, DAN LAGIIIIIII!!!!…………….
Lama kelamaan, diriku terbiasa menghadapi
Lama kelamaan, aku kembali menjadi pemimpi
Akan tetapi kali ini suatu angan yang mungkin akan menjadi solusi…
Tanpa kusadari,
Ternyata dirimu adalah seorang pelukis yang menumpahkan banyak warna di kain kanvas putih
Ternyata diriku adalah sebuah hasil jadi dari apa yang kau lukis.
Kau adalah seniman terhebat yang pernah ada di muka bumi!!!
Kau adalah karya seni terindah yang pernah aku jumpai!!!
Kau membentuk ku merasakan senang,susah,sedih, dan banyak hal yang tak akan ku ucap lagi..
Dan kelak aku akan meyusulmu, ketempat di mana engkau pergi
Tetapi sebelum itu, aku pun akan mengikuti jejak mu…
Tetapi sebelum itu, aku pun akan melukis seperti mu…
Aku juga akan menjadi pelukis!!!
Sama seperti mu, akan tetapi dengan warna dan goresan-goresan yang berbeda
Tak sabar jiwa ini untuk bertemu, Wahai Bapakku…….